Selain Rasulan Ngasem-Singkil, Lurah Tepus Lanjut Hadir Dalam Adat Nyadran Mbah Panjer

25 Mei 2026 19:23:04 WIB

Tepus (desatepus.gunungkidulkab.go.id) - Setelah menghadiri rangkaian kegiatan Rasulan di Padukuhan Ngasem dan Singkil, Lurah Tepus kembali melanjutkan agenda budaya dengan menghadiri tradisi Nyadran Mbah Panjer yang digelar masyarakat Dloko yang meliputi Walangan, Kanigoro, Dongsari, dan Pacungan.

Kegiatan adat tersebut berlangsung di kawasan Petilasan Mbah Panjer yang selama ini dikenal masyarakat sebagai salah satu tempat yang memiliki nilai sejarah dan spiritual. Tradisi nyadran diikuti warga dengan penuh khidmat melalui doa bersama, kenduri, dan berbagai rangkaian adat yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Masyarakat percaya bahwa Petilasan Mbah Panjer menjadi salah satu tempat yang memiliki nilai berkah, sehingga banyak warga datang untuk ngalap berkah serta memanjatkan doa demi keselamatan dan ketenteraman hidup.

Berdasarkan cerita tutur yang berkembang di masyarakat, Mbah Panjer konon merupakan sosok yang menancapkan baling-baling di kawasan Alas Panjer. Peristiwa tersebut dipercaya menjadi asal usul terbentuknya daerah Dloko yang kini dikenal masyarakat setempat.

Lurah Tepus hadir bersama pamong dan masyarakat mengikuti jalannya kegiatan adat hingga akhir acara. Dalam suasana penuh kebersamaan, Lurah juga turut mengikuti kenduri bersama warga sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi leluhur yang masih terus dilestarikan.

Lurah Tepus menyampaikan bahwa tradisi nyadran merupakan bagian penting dari warisan budaya masyarakat Jawa yang mengandung banyak nilai luhur.

“Tradisi seperti Nyadran Mbah Panjer ini menjadi pengingat agar masyarakat tidak melupakan sejarah, leluhur, serta nilai kebersamaan yang diwariskan turun-temurun. Selain doa bersama, kegiatan ini juga mempererat tali silaturahmi antarwarga,” ujar Lurah Tepus.

Ia menambahkan bahwa pemerintah kalurahan mendukung pelestarian adat dan tradisi masyarakat sebagai bagian dari identitas budaya lokal yang harus terus dijaga keberlangsungannya.

“Masyarakat memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Tradisi-tradisi seperti ini harus tetap dirawat agar generasi muda mengenal sejarah dan nilai luhur yang ada di lingkungannya,” tambahnya.

Tradisi Nyadran Mbah Panjer pun hingga kini masih terus dijaga masyarakat Dloko sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus wujud syukur dan doa bersama demi kehidupan masyarakat yang aman, tenteram, dan sejahtera.

 

Simak juga :

Video tentang Nyadran Mbah Panjer

Belum ada komentar atas artikel ini, silakan tuliskan dalam formulir berikut ini

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Kode Keamanan
Komentar
 
Pencarian
Sekilas Info!
Arsip Artikel
Komentar Terkini
  • Nur aisyah
    Nama saya aisyah ngk anak saya ad 5 anak pertama u...baca selengkapnya
    19 Juli 2026 16:19:24 WIB
  • Atikah
    Assalamualaikum.. Saya mau tanya kenapa tahun lalu...baca selengkapnya
    18 Juli 2026 22:01:16 WIB
  • M SHOLEH
    saya berpenghasilan pas Pasan kok dimasukkan desil...baca selengkapnya
    16 Juli 2026 07:36:11 WIB
  • irmayah
    sebelum covid menyerang memang saya dari keluarga ...baca selengkapnya
    09 Juli 2026 11:53:45 WIB
  • Aep Rukmana Mustopa
    Ijin bertanya, saya adalah mantan penerima bansos ...baca selengkapnya
    11 Juni 2026 09:55:53 WIB
  • Dea amelia
    Saya seorang ibu dengan 2 anak yang masih balita s...baca selengkapnya
    10 Juni 2026 07:51:55 WIB
  • kiky
    semoga bisa makin sukses...baca selengkapnya
    09 Juni 2026 10:08:36 WIB
  • Benmy praat
    Saya umur52 thn anak 2 tidak ada kerja atau pengan...baca selengkapnya
    09 Juni 2026 09:00:06 WIB
  • Melyani
    Assalamualaikum saya dari Cirebon Palimanan barat,...baca selengkapnya
    08 Juni 2026 14:22:52 WIB
  • Ika suhartika
    Nau menurunkan desil,kenapa yg kaya mendapatkan ba...baca selengkapnya
    11 Mei 2026 18:41:10 WIB
Galeri Foto
Sugeng Rawuh
Real Time
Powered by DaysPedia.com
Waktu Saat Ini di DI Yogyakarta
104506
Sel, 3 Maret
Statistik Kunjungan
Hari ini
Kemarin
Total Visitor
Media Sosial