Sejarah Kalurahan Tepus
maz_yon 17 Juni 2026 01:53:15 WIB
SEJARAH KALURAHAN TEPUS
Jejak Panjang Peradaban di Bumi Tepus
Di bentang wilayah selatan Kabupaten Gunungkidul, terbentang sebuah kawasan yang sejak lama dikenal dengan nama Tepus. Nama ini bukan sekadar penanda geografis, melainkan sebuah warisan sejarah yang menyimpan kisah panjang perjalanan masyarakat, pemerintahan, budaya, dan peradaban yang tumbuh dari generasi ke generasi.
Menelusuri sejarah Kalurahan Tepus ibarat membuka lembaran masa lalu yang penuh cerita. Sebagian tersimpan dalam dokumen-dokumen kuno, sebagian lagi hidup dalam ingatan para sesepuh yang diwariskan melalui tutur lisan. Dari kedua sumber inilah sejarah Tepus dapat dirangkai menjadi sebuah kisah yang menggambarkan perjalanan panjang sebuah wilayah yang kini menjadi salah satu kalurahan penting di Kapanewon Tepus.
Asal-Usul Nama Tepus
Menurut cerita yang diwariskan para leluhur, nama Tepus berasal dari sebuah pohon yang dahulu tumbuh besar dan rindang di wilayah yang kini termasuk Padukuhan Tepus I. Pohon tersebut dikenal dengan nama pohon Tepus.
Konon, pada masa runtuhnya Kerajaan Majapahit dan munculnya Kesultanan Demak, terjadi berbagai perpindahan penduduk dan pelarian para prajurit dari wilayah-wilayah kekuasaan lama. Dalam salah satu kisah yang berkembang di masyarakat, diceritakan bahwa tiga orang prajurit Majapahit bernama Sukaroto, Dimanoto, dan Sujatmiko melakukan perjalanan hingga sampai di wilayah selatan Gunungkidul.
Dalam keadaan lelah dan kehabisan tenaga, mereka beristirahat di bawah pohon Tepus yang besar. Di tempat yang teduh dan nyaman itu mereka merasa aman dari kejaran musuh. Ketiganya kemudian berikrar bahwa apabila kelak tempat tersebut berkembang menjadi sebuah permukiman, maka wilayah itu akan diberi nama Tepus sesuai nama pohon yang menaunginya.
Hingga kini tidak ada yang dapat menunjukkan secara pasti bentuk maupun lokasi pohon Tepus tersebut. Namun demikian, masyarakat secara turun-temurun tetap meyakini bahwa nama Tepus berasal dari nama pohon yang pernah tumbuh di wilayah itu. Kisah ini menjadi bagian penting dari identitas dan memori kolektif masyarakat Kalurahan Tepus.
Tepus dalam Catatan Sejarah
Keberadaan Tepus ternyata tidak hanya hidup dalam cerita rakyat. Sejumlah dokumen sejarah menunjukkan bahwa nama Tepus telah dikenal sejak masa kolonial.
Pada tahun 1857, dalam peta Karesidenan Yogyakarta yang disusun oleh W.F. Versteeg, telah tercantum nama "Tepoes" bersama beberapa nama wilayah lain yang hingga kini masih dikenal masyarakat, seperti Sidoloko, Klumpit, dan Trosari. Keberadaan nama tersebut menjadi bukti bahwa wilayah Tepus telah dikenal secara administratif sejak pertengahan abad ke-19.
Bukti lain menunjukkan bahwa pada tahun 1875 telah berlangsung pemerintahan kalurahan yang dipimpin oleh seorang bekel bernama Sosetiko. Kehadiran pemerintahan lokal ini menunjukkan bahwa kehidupan masyarakat telah tertata dengan baik melalui sistem pemerintahan yang diakui pada masanya.
Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, keberadaan kalurahan semakin diperkuat melalui Inlandsche Gemeente Ordonnantie (IGO) tahun 1906 yang mengatur desa sebagai kesatuan masyarakat hukum yang memiliki hak mengatur rumah tangganya sendiri. Dalam sistem tersebut, kalurahan dipimpin oleh seorang lurah yang dibantu pamong desa.
Selanjutnya, Rijksblad Kasultanan Yogyakarta Nomor 12 Tahun 1916 mencatat bahwa Tepus telah menjadi salah satu kalurahan di bawah Onderdhistrik Tepoes dalam wilayah Kabupaten Gunungkidul. Dokumen tersebut membuktikan bahwa nama Tepus telah menjadi bagian resmi dari tata pemerintahan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.
Keberadaan Tepus juga kembali tercantum dalam peta resmi Karesidenan Yogyakarta yang diterbitkan pada tahun 1921. Berbagai bukti tersebut menunjukkan bahwa sejarah Tepus memiliki akar yang jauh lebih tua daripada usia administratif yang selama ini dikenal masyarakat.
Masa Awal Pemerintahan Tepus
Pemerintahan Kalurahan Tepus pada masa awal dipimpin oleh Bekel Sosetiko yang menjabat sejak tahun 1875 hingga 1909. Menurut silsilah yang berkembang di masyarakat, Sosetiko merupakan salah seorang pengawal Pangeran Diponegoro yang melarikan diri ke wilayah Tepus setelah berakhirnya Perang Jawa.
Setelah Sosetiko, kepemimpinan dilanjutkan oleh putranya, Karso Suwito, yang memimpin dari tahun 1909 hingga 1948. Pada masa inilah pemerintahan Kalurahan Tepus berkembang dan semakin tertata. Pusat pemerintahan berada di wilayah yang kini dikenal sebagai Padukuhan Tepus III.
Rumah kediaman lurah kala itu sekaligus menjadi pusat pemerintahan kalurahan. Bangunan tersebut hingga kini masih berdiri dan dimanfaatkan sebagai Gedung Pusat Posyandu, menjadi saksi bisu perjalanan sejarah pemerintahan Tepus.
Tiga Kalurahan yang Menjadi Satu
Sebelum terbentuk seperti sekarang, wilayah Kalurahan Tepus terdiri dari tiga kalurahan yang berdiri sendiri, yaitu Kalurahan Blekonang, Kalurahan Tepus, dan Kalurahan Dloka.
Kalurahan Blekonang mencakup wilayah Blekonang dan Trosari di bagian timur. Kalurahan ini dipimpin oleh Ki Lurah Rakiyo dan berkembang melalui penyatuan beberapa wilayah yang memiliki hubungan kekerabatan yang erat.
Di bagian barat terdapat Kalurahan Tepus yang meliputi wilayah Tepus, Jeruk, Klumpit, Singkil, dan Ngasem. Wilayah ini menjadi pusat pemerintahan yang cukup penting pada masanya.
Sementara itu di bagian utara berdiri Kalurahan Dloka yang meliputi wilayah Walangan, Kanigoro, Dongsari, Pacungan, Pudak, dan Pakel. Kalurahan ini dikenal karena kepemimpinan Ki Lurah Sutononggo yang menurut cerita masyarakat memiliki pengaruh besar dalam menjaga keamanan wilayah.
Ketiga kalurahan tersebut berkembang secara mandiri hingga memasuki masa awal kemerdekaan Republik Indonesia.
Lahirnya Kalurahan Tepus Pasca Kemerdekaan
Setelah Indonesia merdeka, pemerintah melakukan penataan wilayah desa untuk menciptakan pemerintahan yang lebih efektif. Melalui Maklumat Nomor 5 Tahun 1948, pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta menetapkan penggabungan sejumlah kalurahan yang jumlah penduduknya masih relatif sedikit.
Pada tanggal 19 April 1948, Kalurahan Blekonang, Kalurahan Tepus, dan Kalurahan Dloka resmi digabung menjadi satu wilayah pemerintahan baru yang tetap menggunakan nama Kalurahan Tepus.
Setelah penggabungan tersebut dilaksanakan pemilihan lurah menggunakan sistem "bitingan", yaitu pemungutan suara dengan memasukkan biji jagung ke dalam kotak pilihan. Dari proses tersebut terpilih Noto Wardoyo sebagai Lurah Tepus pertama setelah penggabungan.
Peristiwa bersejarah inilah yang hingga kini diperingati sebagai Hari Jadi Kalurahan Tepus setiap tanggal 19 April.
Perjalanan Kepemimpinan Kalurahan Tepus
Sejak penggabungan tahun 1948, Kalurahan Tepus dipimpin oleh berbagai tokoh yang memberikan warna dalam pembangunan wilayah.
Kepemimpinan pertama dipegang oleh Noto Wardoyo (1948–1965), dilanjutkan oleh Noto Sugiharjo dan Pawiro Suwito sebagai penjabat lurah. Pada tahun 1967, Pawiro Suwito terpilih menjadi lurah definitif dan memimpin hingga tahun 1984.
Tongkat estafet kemudian diteruskan oleh Brotorijanto yang memimpin selama tiga dekade, dari tahun 1984 hingga 2014. Masa kepemimpinannya menjadi salah satu periode terpanjang dalam sejarah Kalurahan Tepus.
Setelah itu pemerintahan dijalankan oleh Penjabat Kepala Desa Sutrisno dan Suharyana sebelum akhirnya Supardi, SP terpilih sebagai Kepala Desa pada tahun 2016. Pada masa inilah terjadi penyesuaian nomenklatur pemerintahan kalurahan sesuai kebijakan keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Sejak tahun 2021, Kalurahan Tepus dipimpin oleh Hendro Pratopo, S.IP yang terpilih melalui pemilihan lurah langsung dan hingga kini melanjutkan pembangunan Kalurahan Tepus menuju masa depan yang lebih maju.
Perpindahan Pusat Pemerintahan
Salah satu peristiwa penting dalam sejarah modern Kalurahan Tepus adalah pemindahan kantor balai desa.
Selama puluhan tahun pusat pemerintahan berada di Padukuhan Tepus III. Namun karena keterbatasan lahan dan kebutuhan pengembangan pelayanan publik, pemerintah desa bersama masyarakat menyepakati pemindahan kantor balai desa.
Pada tanggal 3 Januari 2008, pusat pemerintahan Kalurahan Tepus resmi dipindahkan ke Pacungan. Lokasi baru ini secara historis merupakan bagian dari wilayah Kalurahan Dloka sebelum penggabungan tahun 1948.
Sementara itu, kompleks balai desa lama tetap dipertahankan sebagai bagian dari warisan sejarah dan budaya masyarakat. Pendopo lama masih digunakan sebagai pusat kegiatan tradisi Rasulan, sedangkan bangunan lainnya telah dialihfungsikan menjadi Gedung Pusat Posyandu.
Menjaga Warisan, Membangun Masa Depan
Sejarah Kalurahan Tepus adalah kisah tentang perjalanan panjang sebuah masyarakat yang tumbuh dari tradisi, kearifan lokal, serta semangat kebersamaan. Dari legenda pohon Tepus, masa pemerintahan bekel, penggabungan tiga kalurahan, hingga perkembangan pemerintahan modern, seluruh perjalanan tersebut membentuk identitas Kalurahan Tepus yang dikenal saat ini.
Memahami sejarah bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan juga menghargai perjuangan para pendahulu yang telah meletakkan fondasi kehidupan masyarakat. Dengan memahami akar sejarahnya, Kalurahan Tepus memiliki pijakan yang kuat untuk melangkah menuju masa depan yang lebih maju, mandiri, dan sejahtera, tanpa kehilangan jati dirinya sebagai bagian dari warisan budaya Gunungkidul.
Buku Profil Kalurahan Tepus
Pencarian
Sekilas Info!
Arsip Artikel
- Prosedur Peringatan Dini dan Evakuasi Keadaan Darurat
- Budaya SATRIYA
- Sejarah Kalurahan Tepus
- Selamat Tahun Baru Islam, 1 Muharram 1448 H
- Puncak Rasul Bumi Sajung Dloko, Lurah Tepus Serahkan Wayang Prabu Puntadewa
- Wahyu Eko Bawono : Lakon Wayang Kulit Ki Hening Sudarsono Acara Rasulan Sajung Dloko
- Penyerahan Panggang Sriti kepada Dalang, Simbol Dimulainya Ruwatan Rasulan Sajung Dloko
Komentar Terkini
-
Aep Rukmana Mustopa
Ijin bertanya, saya adalah mantan penerima bansos ...baca selengkapnya
11 Juni 2026 09:55:53 WIB -
Dea amelia
Saya seorang ibu dengan 2 anak yang masih balita s...baca selengkapnya
10 Juni 2026 07:51:55 WIB -
kiky
semoga bisa makin sukses...baca selengkapnya
09 Juni 2026 10:08:36 WIB -
Benmy praat
Saya umur52 thn anak 2 tidak ada kerja atau pengan...baca selengkapnya
09 Juni 2026 09:00:06 WIB -
Melyani
Assalamualaikum saya dari Cirebon Palimanan barat,...baca selengkapnya
08 Juni 2026 14:22:52 WIB -
Ika suhartika
Nau menurunkan desil,kenapa yg kaya mendapatkan ba...baca selengkapnya
11 Mei 2026 18:41:10 WIB -
Yosa Hartoyo
Sy 61 thn duda tanpa anak tinggal di Karang Tengah...baca selengkapnya
30 April 2026 22:29:31 WIB -
Anova
Terimakasih banyak kepada Kalurahan Tepus atas res...baca selengkapnya
27 April 2026 20:02:04 WIB -
Mei nurtanti
Saya tinggal d rusunawa 1 begalon,panularan ,lawey...baca selengkapnya
04 April 2026 07:07:12 WIB -
Suhardi
Selamat bertugas semoga masyarat Kanigoro sejahter...baca selengkapnya
18 Januari 2026 05:08:06 WIB
Sugeng Rawuh
Statistik Kunjungan
| Hari ini | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Kemarin | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Total Visitor | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |













