Kenapa Awal Puasa Bisa Berbeda? Ini Sedikit Penjelasan Ilmiah dan Dasar Agamanya
17 Februari 2026 22:37:46 WIB
Tepus (desatepus.gunungkidulkab.go.id) - Penentuan awal bulan Ramadan kerap memunculkan perbedaan di tengah masyarakat. Tidak jarang, sebagian umat Islam mulai berpuasa lebih dulu, sementara yang lain menyusul sehari kemudian. Kondisi ini sering menimbulkan pertanyaan, mengapa awal puasa bisa berbeda?
Perlu dipahami, awal bulan dalam kalender Islam tidak ditentukan berdasarkan kalender masehi atau perhitungan biasa. Sistem penanggalan Islam mengikuti peredaran bulan (qamariyah), bukan peredaran matahari seperti kalender yang digunakan sehari-hari. Karena itu, penentuan awal Ramadan bergantung pada posisi dan kemunculan hilal, yakni bulan sabit tipis pertama yang terlihat setelah matahari terbenam. Dalam ajaran Islam, awal bulan baru dimulai ketika hilal terlihat. Dasar ini merujuk pada hadis Nabi Muhammad SAW yang menganjurkan umat Islam berpuasa setelah melihat hilal dan menyempurnakan bulan menjadi 30 hari jika hilal tidak terlihat.
Di sinilah ilmu agama dan sains bertemu dalam proses penentuannya. Secara umum, terdapat dua metode utama yang digunakan untuk menentukan awal Ramadan, yaitu rukyat dan hisab. Metode rukyat dilakukan dengan cara mengamati langsung hilal di langit pada tanggal 29 bulan Syakban. Pengamatan dilakukan dari berbagai titik di Indonesia dengan melibatkan petugas, ahli falak, serta perwakilan ormas Islam. Jika hilal terlihat, maka keesokan harinya ditetapkan sebagai 1 Ramadan. Namun jika hilal tidak terlihat, bulan Syakban digenapkan menjadi 30 hari dan puasa dimulai sehari setelahnya.
Sementara itu, metode hisab menggunakan perhitungan astronomi untuk menentukan posisi bulan secara matematis. Dengan teknologi dan rumus astronomi modern, para ahli dapat menghitung ketinggian bulan, sudut elongasi, hingga kemungkinan visibilitas hilal. Metode ini bahkan mampu memprediksi awal Ramadan jauh sebelum bulan tersebut tiba. Hisab dinilai memiliki tingkat akurasi tinggi karena berbasis data ilmiah dan perhitungan yang presisi. Di Indonesia, keputusan resmi awal Ramadan ditetapkan melalui sidang isbat yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. Dalam sidang tersebut, data hasil hisab dipaparkan terlebih dahulu, kemudian laporan rukyat dari berbagai daerah diverifikasi. Berdasarkan dua pendekatan tersebut, pemerintah mengumumkan secara resmi kapan umat Islam mulai berpuasa.
Meski demikian, sejumlah organisasi Islam memiliki kriteria tersendiri dalam menentukan awal bulan. Muhammadiyah misalnya, lebih mengedepankan metode hisab dengan kriteria tertentu, sementara Nahdlatul Ulama cenderung mengombinasikan hisab dan rukyat dengan pendekatan berbeda.
Perbedaan kriteria inilah yang terkadang menyebabkan awal puasa tidak selalu seragam. Namun, perbedaan tersebut bukanlah bentuk kesalahan atau pertentangan, melainkan variasi metode dalam memahami dan menetapkan awal bulan berdasarkan dalil dan kajian ilmiah masing-masing.
Pada prinsipnya, tujuan dan ibadah yang dijalankan tetap sama, yakni melaksanakan puasa ramadhan sebagai kewajiban umat Islam.
Dengan demikian, penentuan awal puasa bukan dilakukan secara sembarangan. Ada proses pengamatan langsung, perhitungan astronomi yang akurat, serta pertimbangan keagamaan yang mendalam. Kombinasi antara ilmu falak dan ajaran agama inilah yang menjadi dasar dalam menetapkan datangnya bulan suci Ramadan setiap tahunnya.
(disarikan dari berbagai sumber oleh maz_yon)
Formulir Penulisan Komentar
Pencarian
Sekilas Info!
Arsip Artikel
- Bank Indonesia Serahkan Bantuan Sarana dan Prasarana Program PI-KEKDA kepada Pengelola Desa Wisata T
- Pembinaan Pokdarwis Perkuat Kelembagaan dan Pelayanan Pariwisata di Kalurahan Tepus
- Pertemuan Rutin Kader Posyandu Kalurahan Tepus Perkuat Peran Kader dalam Pelayanan Kesehatan Berbasi
- Lurah Tepus Hadiri Sosialisasi Empat Pilar MPR RI Bersama Anggota DPR RI My Esti Wijayati
- Pangripta Kalurahan Tepus Ikuti Pelatihan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender
- Persiapan HUT RI ke-81, Pamong Kalurahan Tepus Hadiri Rapat Kepanitiaan Tingkat Kapanewon
- Peningkatan Kapasitas Pamong Kalurahan, DPMKP2KB Kabupaten Gunungkidul Perkuat Kompetensi Aparatur
Komentar Terkini
-
Nur aisyah
Nama saya aisyah ngk anak saya ad 5 anak pertama u...baca selengkapnya
19 Juli 2026 16:19:24 WIB -
Atikah
Assalamualaikum.. Saya mau tanya kenapa tahun lalu...baca selengkapnya
18 Juli 2026 22:01:16 WIB -
M SHOLEH
saya berpenghasilan pas Pasan kok dimasukkan desil...baca selengkapnya
16 Juli 2026 07:36:11 WIB -
irmayah
sebelum covid menyerang memang saya dari keluarga ...baca selengkapnya
09 Juli 2026 11:53:45 WIB -
Aep Rukmana Mustopa
Ijin bertanya, saya adalah mantan penerima bansos ...baca selengkapnya
11 Juni 2026 09:55:53 WIB -
Dea amelia
Saya seorang ibu dengan 2 anak yang masih balita s...baca selengkapnya
10 Juni 2026 07:51:55 WIB -
kiky
semoga bisa makin sukses...baca selengkapnya
09 Juni 2026 10:08:36 WIB -
Benmy praat
Saya umur52 thn anak 2 tidak ada kerja atau pengan...baca selengkapnya
09 Juni 2026 09:00:06 WIB -
Melyani
Assalamualaikum saya dari Cirebon Palimanan barat,...baca selengkapnya
08 Juni 2026 14:22:52 WIB -
Ika suhartika
Nau menurunkan desil,kenapa yg kaya mendapatkan ba...baca selengkapnya
11 Mei 2026 18:41:10 WIB
Sugeng Rawuh
Statistik Kunjungan
| Hari ini | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Kemarin | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Total Visitor | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |












