Tradisi Padusan: Warisan Budaya Jawa dalam Menyambut Bulan Ramadhan

Mas Danarta 18 Februari 2026 09:38:42 WIB

Lurah Tepus, Hendro Pratopo, S.IP (paling kiri) saat mengikuti acara padusan di Pantai Sundak

 

Tepus - Padusan, sebuah tradisi mandi di sumber mata air yang dilakukan oleh masyarakat Jawa menjelang bulan Ramadhan, merupakan warisan budaya yang kaya akan sejarah dan makna mendalam. Lebih dari sekadar ritual membersihkan diri secara fisik, Padusan merepresentasikan penyucian diri secara spiritual, sebuah persiapan hati untuk memasuki bulan suci dengan jiwa yang bersih dan pikiran yang jernih. Istilah "padusan" sendiri berasal dari bahasa Jawa, "adus," yang berarti mandi, mengindikasikan tindakan pembersihan diri sebagai inti dari tradisi ini.

Sejarah Padusan dapat ditelusuri hingga zaman kerajaan Mataram Kuno. Seperti yang dilansir oleh Tempo.co, tradisi ini pada masa itu dikenal dengan nama "amertabhujangga," yang bermakna "mandi di air suci." Ritual ini bukan kegiatan sembarangan, melainkan dilakukan oleh para raja dan bangsawan sebagai bagian dari praktik spiritual dan keagamaan mereka. Sebuah studi berjudul "Pandangan Masyarakat Mengenai Tradisi Padusan" mengungkapkan bahwa pada masa Kerajaan Majapahit, Padusan dilakukan oleh para ksatria, pujangga, brahmana, dan empu sebagai bentuk penyucian diri sebelum menjalankan tugas dan kewajiban mereka. Air yang digunakan pun bukanlah sembarang air, melainkan air dari sumber mata air yang dianggap suci dan memiliki kekuatan spiritual.

Terdapat pula sumber yang mengaitkan asal-usul Padusan dengan peran Wali Songo dalam penyebaran agama Islam di tanah Jawa. Pada masa itu, Wali Songo memperkenalkan Padusan sebagai momentum yang tepat bagi setiap individu untuk melakukan introspeksi diri. Melalui perenungan dan evaluasi diri, seseorang diharapkan dapat membersihkan diri dari segala kesalahan dan kekhilafan, serta memperbarui niat untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Pemilihan mata air sebagai lokasi Padusan pada masa itu juga bukan tanpa alasan. Mata air dianggap sebagai simbol kehidupan dan kemurnian, tempat yang ideal untuk membersihkan diri secara lahir dan batin.

Di era modern, tradisi Padusan mengalami transformasi. Seiring dengan perkembangan zaman dan meningkatnya kesadaran akan potensi wisata budaya, Padusan berkembang menjadi ajang wisata yang menarik minat pengunjung dan wisatawan. Berbagai acara dan festival Padusan diselenggarakan di berbagai daerah di Jawa, menawarkan pengalaman yang unik dan menarik bagi para wisatawan. Namun, di tengah modernisasi dan komersialisasi, esensi Padusan sebagai ritual penyucian diri tetap dijaga. Acara Padusan yang diselenggarakan oleh Pemkab Gunungkidul pada 17 Februari 2026, yang diikuti oleh Lurah Tepus, Hendro Pratopo, S.IP, merupakan salah satu contoh upaya pelestarian tradisi Padusan di era modern.

Padusan bukan sekadar tradisi kuno yang dilestarikan, tetapi juga sebuah pengingat akan pentingnya menjaga kebersihan diri, baik secara fisik maupun spiritual. Di tengah kesibukan dan hiruk pikuk kehidupan modern, Padusan mengajak kita untuk sejenak berhenti, merenung, dan membersihkan diri dari segala noda dan kotoran yang melekat. Dengan hati yang bersih dan pikiran yang jernih, kita dapat menyambut bulan Ramadhan dengan penuh sukacita dan semangat untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Tradisi Padusan, dengan segala sejarah dan maknanya, merupakan warisan budaya yang patut dijaga dan dilestarikan agar tetap relevan bagi generasi mendatang. Ia adalah simbol penyucian diri, introspeksi diri, dan persiapan spiritual untuk menyambut bulan suci Ramadhan dengan penuh khidmat dan keimanan.

Belum ada komentar atas artikel ini, silakan tuliskan dalam formulir berikut ini

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Kode Keamanan
Komentar
 

Pencarian

Komentar Terkini

Media Sosial

FacebookTwitterGoogle PlussYoutubeInstagram

Statistik Kunjungan

Hari ini
Kemarin
Pengunjung